Lompat ke konten
KalkuPintar

Tabel Berat Besi Beton per Batang (Polos & Ulir, SNI 2052:2017)

Ditulis oleh Cholilurrohman, S.T.

Halaman ini memuat tabel berat besi beton per meter dan per batang 12 m untuk besi polos (BjTP) dan ulir (BjTS), sesuai SNI 2052:2017. Berat dihitung dari luas penampang dikali massa jenis baja 7.850 kg/m3. Contoh: besi D16 sekitar 1,578 kg/m atau 18,94 kg per batang 12 m.

Diperbarui

Cara menggunakan

  1. Jumlahkan total panjang besi yang dibutuhkan dari gambar atau bestat.
  2. Pilih diameter besi (D8 sampai D16).
  3. Pilih panjang per batang sesuai yang dijual (umumnya 12 m).
  4. Lihat total berat dan jumlah batang di panel hasil.
  5. Gunakan berat untuk memperkirakan biaya karena besi dijual per kilogram.

Cara menghitung

Berat besi per meter dihitung dari luas penampang lingkaran dikali massa jenis baja 7.850 kg/m3. Hasilnya sesuai tabel berat besi SNI. Total berat adalah panjang dikali berat per meter, dan jumlah batang membulatkan panjang ke atas.

Lihat rumus dan keterangan simbol
Berat per meter = (π ÷ 4 × diameter²) × 7.850 · Total berat = panjang × berat per meter · Batang = pembulatan ke atas (panjang ÷ panjang batang)
  • diameter = diameter nominal besi dalam meter (mm ÷ 1000)
  • 7.850 = massa jenis baja dalam kg/m³
  • Batang = dibulatkan ke atas karena besi dijual per batang utuh

Contoh: 100 m besi D10, batang 12 m

Berat per meter D10 = (π ÷ 4 × 0,01²) × 7.850 = 0,617 kg/m, sesuai tabel SNI. Total 100 m = 61,7 kg. Jumlah batang = 100 ÷ 12 = 8,33 dibulatkan menjadi 9 batang.

Pertanyaan yang sering diajukan

Besi Ø12 beratnya 0,888 kg per meter, jadi satu batang 12 m sekitar 10,66 kg. Angka ini berat teoritis dari massa jenis baja 7.850 kg/m3 dan sesuai SNI 2052:2017. Berat aktual di lapangan bisa sedikit berbeda karena toleransi produksi.

Sumber & metodologi

Panduan terkait

Panduan berat besi beton: rumus, tabel, dan cara cek kualitas

Besi beton dijual per kilogram, tetapi di gambar kerja jumlahnya ditulis dalam meter. Untuk memesan dan menghitung biaya, Anda perlu mengubah panjang menjadi berat. Tabel di atas menyediakan angkanya, dan bagian ini menjelaskan dari mana angka itu berasal serta cara memakainya di lapangan, termasuk mengenali besi yang tidak sesuai standar. Semua angka mengacu pada SNI 2052:2017 dan massa jenis baja 7.850 kg per meter kubik, sehingga bisa dipakai untuk memeriksa berat besi yang Anda terima.

Cara menghitung berat besi beton

Berat besi per meter berasal dari luas penampang lingkaran dikali massa jenis baja. Massa jenis baja karbon adalah 7.850 kg/m3. Bila diameter d dinyatakan dalam milimeter, rumusnya bisa diringkas menjadi satu konstanta.

Konstanta 0,006165 itu bukan angka ajaib. Ia berasal dari (pi dibagi 4) dikali 7.850 kg/m3, lalu dibagi satu juta untuk mengubah satuan dari milimeter persegi ke meter persegi. Hasilnya, berat per meter cukup dihitung dengan mengalikan konstanta itu dengan kuadrat diameter dalam milimeter.

Contoh nyata: Anda butuh 50 batang besi ulir D16 sepanjang 12 m. Berat D16 adalah 0,006165 dikali 16 kuadrat, yaitu 1,578 kg per meter. Satu batang 12 m beratnya 18,94 kg. Untuk 50 batang, totalnya 50 dikali 18,94 sama dengan 946,9 kg, atau hampir satu ton. Dengan angka ini Anda bisa langsung menegosiasikan harga per kilogram dan mengecek berat kiriman saat besi datang.

Berat per meter (kg/m) = 0,006165 x diameter mm dikuadratkan. Kalikan panjang total untuk mendapat berat, dan berat itulah dasar harga karena besi dijual per kilogram.

Beda besi polos dan ulir

Besi polos (BjTP, Baja Tulangan Polos) permukaannya licin dan ditandai dengan simbol diameter Ø. Besi ulir atau sirip (BjTS, Baja Tulangan Sirip) punya tonjolan di sepanjang batang dan ditandai dengan huruf D. Untuk diameter nominal yang sama, keduanya beratnya praktis sama karena luas penampang nominalnya sama; sirip tidak menambah berat secara berarti.

Perbedaan utamanya ada pada daya cengkeram terhadap beton. Sirip pada besi ulir mengunci beton sehingga tulangan dan beton bekerja sama menahan gaya. Karena itu tulangan utama pada sloof, kolom, balok, dan pelat lantai memakai besi ulir. Besi polos biasanya dipakai untuk sengkang atau begel, tulangan praktis, dan bagian yang tidak menahan gaya tarik besar.

Memilih jenis dan diameter besi bukan soal selera. Angkanya keluar dari perhitungan struktur oleh perencana. Tabel berat hanya membantu Anda mengubah kebutuhan yang sudah ditentukan itu menjadi jumlah batang dan biaya.

Cara membaca kode di badan besi

Besi SNI mencetak identitasnya timbul di badan batang, bukan sekadar dicat. Anda akan menemukan tiga informasi: merek pabrik, jenis dan mutu, serta diameter. Contohnya BjTS 420 berarti Baja Tulangan Sirip dengan tegangan leleh minimal 420 megapascal. Penamaan ini menggantikan sistem lama seperti U39 atau U50 yang mengacu pada tegangan dalam satuan berbeda.

Angka mutu itu penting karena menentukan seberapa besar gaya yang boleh ditahan tulangan sebelum meleleh. BjTS 420 lebih kuat daripada BjTP 280. Perencana memilih mutu ini dan tidak boleh diganti sembarangan di lapangan hanya karena stok toko berbeda.

Besi tanpa marking timbul, atau yang mutunya tidak tercantum, patut dicurigai. Marking yang jelas adalah syarat besi lolos SNI, dan itu garis pertama untuk membedakan besi standar dari yang tidak.

Kode BjTP dan BjTS menandai polos atau ulir, sedangkan angka setelahnya (mis. 280, 420) adalah tegangan leleh minimal dalam MPa. Marking harus timbul di badan besi, bukan cuma dicat.

Besi banci: cara cek cepat di lapangan

Besi banci adalah besi yang diameternya lebih kecil dari ukuran yang tertera. Karena berat mengikuti kuadrat diameter, pengurangan diameter sedikit saja membuat berat turun cukup banyak dan kekuatannya ikut turun. Besi seperti ini beredar luas karena terlihat sama dari luar tetapi lebih murah.

Cara paling praktis mengeceknya adalah menimbang. Ambil satu batang, timbang, lalu bandingkan dengan tabel di atas. Misalnya Anda beli yang dijual sebagai Ø10 batang 12 m; menurut tabel beratnya 7,40 kg. Kalau timbangan menunjukkan 6,6 kg, ada kekurangan sekitar 11 persen, jauh di luar toleransi wajar dan menandakan besi banci.

SNI 2052:2017 mengizinkan toleransi berat, jadi selisih beberapa persen masih normal dan tidak perlu dipermasalahkan. Yang jadi alarm adalah selisih besar yang konsisten pada beberapa sampel. Untuk pekerjaan struktural, selisih itu berarti tulangan lebih lemah dari yang dirancang, dan itu bukan hal yang bisa ditawar.

Konversi kilogram ke batang dan sebaliknya

Di toko material, besi sering dijual per batang, per ikat, atau per ton. Anda perlu bolak-balik antara satuan berat dan jumlah batang. Kuncinya adalah berat satu batang menurut tabel.

Untuk mengubah kilogram ke jumlah batang, bagi total berat dengan berat satu batang. Contoh: pesanan 946,9 kg besi D16 dibagi 18,94 kg per batang menghasilkan 50 batang. Sebaliknya, kalau tahu jumlah batang, kalikan dengan berat per batang untuk mendapat total kilogram yang jadi dasar harga.

Saat membeli per ton, ingat bahwa jumlah batang per ton berbanding terbalik dengan berat. Satu ton Ø10 berisi sekitar 135 batang, sedangkan satu ton Ø16 hanya sekitar 53 batang. Kalau penjual mengaku memberi lebih banyak batang per ton daripada angka tabel untuk diameter yang sama, curigai besinya lebih ringan dari seharusnya.

Panjang batang di pasar juga memengaruhi hitungan. Standarnya 12 m, tapi sebagian toko menjual potongan 6 m untuk memudahkan angkut. Berat per meter tetap sama; yang berubah hanya berat per batang, yaitu setengahnya. Pastikan Anda dan penjual menyepakati panjang batang sebelum menghitung jumlah, agar tidak salah pesan separuh kebutuhan.

Dari gambar kerja ke daftar pesanan besi

Menghitung besi yang benar dimulai dari gambar penulangan, bukan dari perkiraan kasar. Pada gambar, tiap elemen struktur mencantumkan diameter dan jumlah tulangan, misalnya kolom dengan 8 batang D16 dan sengkang Ø10 tiap 15 cm. Dari sana Anda menyusun daftar potong (bar bending schedule) yang merinci panjang tiap batang termasuk bengkokan dan kaitnya.

Setelah panjang total per diameter diketahui, kalikan dengan berat per meter dari tabel untuk mendapat berat per diameter, lalu jumlahkan semuanya. Tambahkan kebutuhan overlap sambungan, biasanya sekitar 40 kali diameter di tiap titik sambungan, karena tulangan panjang harus disambung dari batang 12 m. Jangan lupa kawat bendrat untuk mengikat, umumnya sekitar 1,5 sampai 2 persen dari berat besi.

Cara ini terlihat lebih lama, tetapi hasilnya jauh lebih akurat daripada memakai rasio kilogram per meter kubik. Selisih 5 sampai 10 persen pada tonase besi bisa berarti jutaan rupiah pada satu rumah, dan kekurangan besi di tengah pengecoran memaksa berhenti menunggu kiriman baru.

Angka pesanan yang benar datang dari daftar potong per diameter, dikali berat per meter, ditambah overlap sambungan dan kawat bendrat sekitar 1,5 sampai 2 persen.

Perkiraan kebutuhan besi per meter kubik beton

Pertanyaan yang sering muncul saat menyusun anggaran adalah berapa kilogram besi untuk tiap meter kubik beton. Jawabannya bukan angka tunggal karena bergantung pada jenis elemen dan beban yang ditahan. Angka ini hanya kasar untuk estimasi awal, bukan pengganti perhitungan struktur.

Sebagai rentang umum pada rumah tinggal, pondasi dan pelat lantai biasanya memakai sekitar 80 sampai 120 kg besi per meter kubik beton, sedangkan kolom dan balok yang menahan beban lebih besar bisa 120 sampai 200 kg per meter kubik. Bangunan bertingkat atau bentang lebar bisa lebih tinggi lagi.

Gunakan rentang ini hanya untuk memeriksa kewajaran anggaran, misalnya membandingkan volume beton dengan tonase besi yang ditawarkan kontraktor. Untuk kebutuhan pasti, hitung dari gambar penulangan: jumlahkan panjang tiap diameter, kalikan berat per meter dari tabel, lalu tambahkan kebutuhan kawat dan overlap sambungan.

Kebutuhan besi per m3 beton berkisar 80 sampai 200 kg tergantung elemen, tapi angka pasti selalu datang dari gambar penulangan, bukan dari rasio umum.

Kalkulator terkait

Penulis

Ditulis oleh

Foto Cholilurrohman, S.T.
Cholilurrohman, S.T.

Pendiri & Editor KalkuPintar

LinkedIn

Cholilurrohman, S.T., adalah pendiri dan editor KalkuPintar. Sarjana Teknik Sipil ini menyusun dan memelihara setiap kalkulator agar memakai rumus serta tarif dari sumber resmi terbaru dan tetap mudah dipahami, dengan perhatian khusus pada kalkulator bangunan dan estimasi material.

Fokusnya pada akurasi angka, kejelasan penyajian, dan pembaruan berkala mengikuti perubahan peraturan.

Teknik sipil & estimasi bangunanPajak penghasilanKredit & KPRBPJSPerencanaan keuangan